Sabtu, 29 Desember 2012

Sejarah & Manfaat Tahun Baru Menurut Pandangan Islam

Sejarah Tahun Baru

Sebentar lagi tahun 2012 akan berganti menjadi tahun 2013. Banyak orang yang sedang bersiap-siap untuk merayakannya. Ada yang beli terompet, petasan, kembang api, dan lain sebagainya. Intinya mereka sedang bersiap merayakan pergantian tahun yang terjadi hanya setahun sekali. (ya iyalah…, kalo pergantian hari terjadi hanya sehari sekali)
Tidak ada masalah dengan perayaan tersebut. Bahkan, Jokowi telah menyiapkan jalan Sudirman, M.H. Thamrin dan sekitarnya untuk pelaksanaan kegiatan tersebut. Beliau akan membuat jalan tersebut menjadi bebas kendaraan (mobil) — istilahnya: car free night — pada saat menjelang dan setelah pergantian tahun berlangsung.
Jadi, bagi Anda yang ingin turut merayakan peristiwa pergantian tahun, silakan mempersiapkan segala sesuatunya. Rencanakan pula untuk ke Jakarta (kawasan jalan Sudirman dan sekitarnya) untuk merasakan atmosfer pergantian tahun di ibukota republik tercinta ini. Namun, tahukah Anda tentang sejarah tahun baru??? Berikut ini saya coba berikan kutipan tulisan tentang sejarah tahun baru hasil copas dari beberapa situs.

Sejarah Tahun Baru

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (Sebelum Masehi) — mungkin hal ini agak aneh bagi Anda karena tahun baru Masehi dimulai pada tanggal 1 Januari 0001. Perayaan tersebut terjadi tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM menjadi kalender Julian (atau kalender Julius).
Dengan demikian, perayaan tersebut sejatinya bukan untuk merayakan tahun baru (1 Januari), melainkan untuk merayakan pergantian penanggalan tradisional Romawi menjadi kalender baru buatan Julius Caesar, sekaligus merayakan penobatan Julius Caesar menjadi kaisar Roma.
Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari (setara dengan 12 bulan) dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.
Awalnya penanggalan tradisional Romawi dimulai pada tanggal 1 Maret dengan jumlah hari sebanyak 304 hari atau setara dengan 10 bulan. Adapun nama-nama bulan pada kalender tradisional Romawi adalah:
  1. Martius,

  2. Aprilis,

  3. Maius,

  4. Junius,

  5. Quintilis,

  6. Sextilis,

  7. September,

  8. October,

  9. November, dan

  10. December.
Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Itulah penyebabnya mengapa ada tahun kabisat (bulan Februari berjumlah 29 hari) dan tahun biasa (bulan Februari berjumlah 28 hari).
Adapun mengenai perubahan nama bulan ke-7 dan ke-8 menjadi bulan Juli dan Agustus ceritanya adalah sebagai berikut. Tidak lama sebelum (Julius) Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia (Caesar) mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Lalu, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. Dengan demikian, nama-nama bulan pada kalender Julian ini menjadi:
  1. Januarius (January)

  2. Februarius (February)

  3. Martius (March)

  4. Aprilis (April)

  5. Maius (May)

  6. Junius (June)

  7. Quintilis, diganti menjadi: Julius (July)

  8. Sextilis, diganti menjadi: Augustus (August)

  9. September (September)

  10. October (October)

  11. November (November)

  12. December (December)
Jadi, ternyata perayaan tahun baru sudah dilaksanakan sebelum tahun 1 Masehi. Lalu bagaimana dengan penetapan pergantian tahun ‘SM’ (Sebelum Masehi) menjadi tahun ‘M’ (Masehi)???

Penetapan Kalender Masehi

Kalender Masehi adalah kalender yang mulai digunakan oleh umat Kristen awal. Mereka berusaha menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1). Namun untuk penghitungan tanggal dan bulan mereka mengambil kalender bangsa Romawi yang disebut kalender Julian — kalender buatan Julius Caesar — (yang tidak akurat) yang telah dipakai sejak 45 SM.
Mereka (umat Kristen awal) hanya menetapkan tahun 1 untuk permulaan era ini. Perhitungan tanggal dan bulan pada Kalender Julian lalu disempurnakan lagi pada tahun pada tahun 1582 menjadi kalender Gregorian. Penanggalan ini kemudian digunakan secara luas di dunia untuk mempermudah komunikasi.
Kata Masehi (disingkat M) dan Sebelum Masehi (disingkat SM) berasal dari bahasa Arab (المسيح), yang berarti “yang membasuh,” “mengusap” atau “membelai.”
Dalam bahasa Inggris penanggalan ini disebut “Anno Domini” / AD (dari bahasa Latin yang berarti “Tahun Tuhan kita”) atau Common Era / CE (Era Umum) untuk era Masehi, dan “Before Christ” / BC (sebelum [kelahiran] Kristus) atau Before Common Era / BCE (Sebelum Era Umum).
Jadi, awal tahun Masehi ini merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa Al-Masih. Oleh karena itu, kalender ini dinamakan menurut (nama) Yesus atau Masihiyah (Mesiah, Mesias, Messiah, atau Mashiach). Sementara itu, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut.
Adapun bagi sebagian besar orang non-Kristen (umat agama lainnya) biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk (mengarah) kepada konotasi Kristen tersebut.
Demikianlah sedikit informasi dari saya hasil berselancar di dumay dan tanya-tinyi ke simbah Gugel. Semoga 
 bermanfaat dan mohon maaf jika ada kekeliruan.

Hikmah Pergantian Tahun

25 Dec
Sumber : http://alhikmah.ac.id/

alhikmah.ac.id – Umur tahun masehi 2012 akan segera berakhir.  Biasanya, tradisi banyak orang menyambutnya dengan gegap gempita diiringi hura-hura. secara historis-filosofis, penanggalan Masehi merupakan manivestasi keyakinan Yunani Kuno dan ajaran Kristen.
E. Darmawan Abdullah dalam bukunya ‘Jam Hijriyah’ menjelaskan bahwa Tahun Masehi adalah penanggalan yang bersumber pada tradisi orang Romawi. Dalam ssejarahnya, penanggalan Romawi berawal dari penaanggalan yang dibuat oleh orang-orang Yunani kuno untuk menandai kelahiran dewa matahari.
Ketika kaisar Romawi memeluk agama Kristen, berarti keyakinan leluhurnya terhadap dewa matahari harus ditinggalkan dan menyembah Yesus Kristus sebagai tuhannya. Sejak saat itulah, penanggalan Masehi menetapkan hitungan tahun pertamanya pada hari kelahiran Isa Al-Masih, itulah penanggalan Masehi. Jadi, penanggalan Masehi adalah manivestasi keyakinan Kristen.
Seperti diketahui, nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi masih menggunakan nama-nama para dewa Yunani kuno. Terdapat 6 dari 12 nama-nama bulan yang menggunakan nama-nama dewa dan dewi sembahan mereka. Enam bulan pertama (Januari – Juni) adalah nama para dewa, bulan ke 7 dan ke 8 menggunakan nama raja mereka, sedangkan bulan ke 9 sampai ke 12, menggunakan nomor urut bilangan bulan.
E. Darmawan Abdullah menilai tidak dihapuskannya nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi oleh kaisar Romawi kala itu, adalah dalam rangka memperingati kebesaran bangsa Romawi, sehingga nama bulannya tetap eksis, abadi melayani sejarah kehidupan. Kaisar tidak ingin dunia tidak mengenal kebesaran bangsa Romawi.
Karena itu, tidak semestinya umat Islam perlu bergegap gempita menyambut pergantian tahun yang menyisakan hitungan hari ke depan. Hal itu tidak lain karena Masehi adalah manives keyakinan agama lain. Sementara Islam, melarang keras umatnya ikut-ikutan dalam perkara-perkara yang merupakan manives dari agama lain.
Perlu diketahui juga di sini, bahwa awalnya penanggalan Roma hanya berjumlah 10 bulan dalam setahunnya (Maret – Desember). Nah, seiring perjalan waktu dan terkuaknya ilmu astronomi yang menemukan bahwa setahun itu ada 12 bulan, maka di kemudian hari, bulan pun ditambah dua, yaitu Januari dan Februari, sehingga lengkaplah tahun Masehi menjadi 12 bulan.
Tidak berhenti di situ, pergantian nomor urut pun tidak bisa dihindari. Bulan Maret yang awalnya bulan pertama diganti dengan bulan Januari. Mengapa? Ya karena Januari adalah nama dewa Janus (penjaga gerbang). Jadi, tepat jika berada di awal tahun.
Muhasabah

Secara akidah, ikut merayakan perayaan Tahun Baru Masehi adalah keliru. Secara empiris, tidak relevan jika pergantian tahun dihadapi dengan pesta dan hura-hura. Meski demikian, setidaknya, karena tradisi itu terjadi di sekitar kita,  maka sebaiknya kita bisa mensikapinya atau mengajak yang lain memanfaatkannya dengan cara yang baik.
Cara yang tepat dengan adanya pergantian tahun adalah dengan cara muhasabah  atau introspeksi diri. Muhasabah adalah melakukan evaluasi, dan bersikap kritis kepada diri sendiri. Bermuhasabah berarti mencoba mengenali kelebihan dan kekurangan yang ada. Kelebihan yang diberikan Allah akan dimanfaatkan untuk menambah raihan kebaikan. Sementara kekurangan dijadikan sebagai momentum memperbaiki diri agar lebih baik dari waktu ke waktu. Demikian keadaan orang yang aktif melakukan muhasabah.
Introspeksi  dengan melakukan renungan tentang umur, harta, kesempatan, dan waktu yang ada. Untuk apa umur kita selama ini? Dari mana kita memperoleh harta dan ke mana harta tersebut kita keluarkan? Bagaimana kita memanfaatkan kesempatan yang ada? Dan dengan apa kita mengisi waktu hidup ini?
Nabi mengajarkan kepada kita untuk muhasabah lewat sabdanya; “Orang yang beruntung adalah orang yang menghisab dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. Turmudzi). [baca juga: Teladan Salafus Shalih Dalam Muhasabah]
Karenanya sungguh menyedihkan jika kita ikut merayakan pergantian tahun apalagi dengan cara karaokean, plesiran, begadang semalam suntuk laki dan perempuan bercampur.
Hakikat Waktu

Berbicara waktu, menarik apa yang disampaikan oleh Malik Bennabi dalam bukunya ‘Syurutu al-Nahdhah’.
Ia mengatakan, “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru. “Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.”
Kemudian, ia melanjutkan, “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu –selain Tuhan– tidak akan mampu melepaskan diri darinya.
Jadi, jangan sepelekan waktu, apalagi dengan melakukan hal-hal yang kita tidak mengerti apa alasan dan manfaat melakukan sesuatu. Berhati-hatilah, waktu adalah penentu. Dan, kelak setiap perbuatan pasti akan dimintai pertanggungjawaban.
عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93).
Prioritaskan Iman

Sekarang saatnya umat Islam berpikir dan terus-menerus menggali apa sebenarnya makna kehidupan ini. Dan, dalam konteks sekarang, apa urgensi dan argumentasinya umat Islam ikut-ikutan bergembira merayakan Tahun Baru.
Kaji sejarahnya, pelajari mengapa umat Islam juga punya kalender sendiri. Apakah itu sekedar hanya berbeda atau justru bentuk pengabdian sebuah keyakinan? Jika itu ternyata bentuk keyakinan, maka jelas, umat Islam terlarang mengikuti perayaan agama lain.
Dengan demikian, setelah jelas apa itu Masehi dan bagaimana sejarahnya, akan sangat baik jika semua umat Islam, keluarga Muslim, generasi muda Muslim memprioritaskan program peningkatan iman, yang nyata lebih dibutuhkan, daripada sekedar ikut-ikutan orang merayakan sesuatu yang sebenarnya tidak dikenal dalam ajaran Islam.
Berbicara tahun, berarti membahas waktu. Al-Qur’an (Al-Ashr : 1 – 3) mengingatkan kita tentang urgensi waktu. Disebutkan bahwa semua manusia itu merugi, melainkan yang beriman (hidup sehari-harinya; pikiran, ucapan, dan aktivitasnya hanyalah untuk menguatkan dan menyempurnakan iman dengan senantiasa beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran).
Jadi, sangat baik jika kita semua senantiasa menghias diri dengan hal-hal yang dapat meningkatkan iman. Bukan sebaliknya, justru melemahkan bahkan merusak iman sendiri.
Padahal, Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan kita agar senantiasa sigap dalam mempersiapkan hari esok (akhirat) dengan ketakwaan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: Al-Hasyr [59]: 18).
Oleh karena itu, perbanyaklah membaca al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, bersilaturrahim dengan keluarga jauh, atau menyantuni saudara kita yang membutuhkan. Hal itu akan sangat baik bagi kehidupan dunia akhirat kita, daripada mengeluarkan uang beli terompet, bakar petasan, kembang api, atau aktivitas-aktivitas mubadzir









SELAMAT TAHUN BARU 2013
Semoga tahun depan kita menjadi manusia yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga Indonesia (baca: pemerintah dan rakyatnya) menjadi lebih berketuhanan, lebih manusiawi dan lebih beradab, lebih bersatu, lebih merakyat, dan lebih adil di segala bidang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar